Blog Baru Seorang Kawan…Iman Prihandono

Saya mengenalnya sebagai housemate yang sangat baik ketika kami sedang sekolah di Sydney. Dia kuliah pada Fakultas Hukum University of Sydney, sementara saya di ekonomi. Meski berbeda bidang studi, satu hal yang sama,…sama-sama percaya mekanisme pasar…he..he.he. Belakangan beliau membuat blog baru dengan semangat baru untuk berbagi pengetahuan soal hukum. Blognya dapat di klik disini.

2 Komentar

Filed under Uncategorized

Kebijakan Muslihat

Kebijakan konversi BBM sudah penuh masalah. Artikel bagus dari Faisal Basri di Kompas mengulasnya.

3 Komentar

Filed under Uncategorized

Antara Mekanisme Pasar dan Pemerintah

Evaluasi keadilan (fairness) dalam sebuah kebijakan publik mestinya melihat keadilan dalam artian pertama setiap individu harus mendapatkan apa yang diusahakannya sendiri tanpa hambatan apa-pun (prinsip dari the First Welfare Theorem). Dan, andai sebuah kebijakan punya tuntutan pemerataan, maka desain kebijakan yang redistributif tidak merusak keinginan (insentif) individu-individu untuk mengejar keinginannya (prinsip dari the Second Welfare Theorem).

Kebijakan ini sudah pasti tidak memenuhi dua kriteria keadilan diatas. Pertama, subsidi BBM pun tidak memenuhi dua kriteria keadilan diatas. Karena konsumen BBM premium menikmati harga yang relatif lebih murah dari harga yang semestinya (menikmati sesuatu yang melebihi dari apa yang diusahakan). Kedua, uang yang digunakan subsidi merupakan kebijakan resdistribusi yang tidak memenuhi standar kriteria kedua-ketika tidak semua orang menggunakan BBM premium mengapa setiap orang harus mensubsidi kelompok pengguna. Maka bagaimana bisa mengharapkan kebijakan “Distribusi BBM bersubsidi” akan lebih adil.

Dalam hal keadilan sepertinya mekanisme pasar seringkali lebih baik dan adil  ketimbang pemerintah.

3 Komentar

Filed under Uncategorized

Soal larangan terbang ke UE

Sepertinya sudah menjadi tipikal kebanyakan politisi dan birokrat kita yang lebih mudah menuduh kealpaan diri sendiri kepada orang. Dan sepertinya menjadi begitu senang dengan ide konspirasi yang memojokkan Indonesia. Demikian halnya dengan larangan terbang sejumlah maskapai Indonesia ke Uni Eropa (UE).  Komentar ini, ini dan ini menunjukkan tipikal itu.

Untung laporan yang lain menunjukkan betapa kita begitu alpa dengan kesalahan sendiri dan begitu mudah menyalahkan orang lain.

Tinggalkan komentar

Filed under Uncategorized

Mencari desain sistem yang rasional

Seorang teman selalu mengatakan bahwa desain sistem (politik maupun hukum) di Indonesia selalu memandang manusia sebagai mahluk yang beretika. Namun kita juga kerap melihat bahwa kenyataan itu rasanya tidak benar. Berikut opini saya mengenai kekecewaan Saldi Isra, guru besar hukum Universitas Andalas, terhadap keputusan Mahkamah Agung (MA) menyangkut kasus korupsi anggota DPRD Sumbar di sini. Berikut opini saya di Kompas masih menyangkut soal yang sama disini.

Tinggalkan komentar

Filed under desain sistem, hukum

Jumlah orang kaya mestinyamengurangi pengangguran…heh?

Itu kira-kira ekspektasi dari ulasan tentang ekonomi disini (dikutip dari majalah Gatra). Saya kutip:

Pengamat ekonomi dari Institute for Development and Finance, Avilliani, mengungkapkan bahwa naiknya jumlah orang kaya di Tanah Air ternyata tidak mempengaruhi kemampuan sektor riil dalam menyerap tenaga kerja. Hal ini disebabkan kekayaan yang beredar hanya bergulir di pasar uang dan pasar modal. Sebagai bukti, naiknya jumlah orang kaya ini tidak secara signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya kemiskinan.

Melihat kondisi demikian, Aviliani menyimpulkan bahwa melonjaknya jumlah milyarder itu kurang bermanfaat terhadap negara, melainkan lebih pada individu saja. “Angka itu menunjukkan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” katanya kepada Gatra

Bukan hal yang mengherankan sebetulnya kenapa jumlah orang kaya tidak mengurangi pengangguran atau orang miskin. Karena, jawaban sederhana, proses perumusan masalahnya saja sudah tidak tepat. Tentu saja pengeluaran saya untuk membeli sekian mobil mewah tidak akan terkait dengan pengurangan kemiskinan dan pengangguran (dan secara intuisi saja, tanpa perlu menguji signifikansi agka-angka statistik). Tetapi persoalan penting sebetulnya apakah jumlah orang kaya relevan untuk dikaitkan dengan “pengurangan kemiskinan” atau “pertumbuhan” yang mestinya dijawab. Jawaban saya, tentu tidak sama sekali. Menjadi berbeda bila kita berbicara soal ketimpangan, jumlah orang kaya tentu menjadi relevan disini.

Lantas mungkin kita berpikir bukankah ketimpangan bisa saja berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kemiskinan, iya mungkin saja. Akan tetapi menarik garis langsung antara jumlah orang kaya dan pengurangan pengangguran dan pertumbuhan ekonomi…..mmmm…membuat saya mengerutkan dahi.

6 Komentar

Filed under jurnalisme

Terlalu Jargon….

Tempo hari saya pernah mengulas sebuah tulisan di Kompas. Kali ini saya tertarik pada ulasan lain di harian Kompas soal kondisi ekonomi international terkini ( belum ada linknya) . Komentar pendek soal tulisan itu: terlampau banyak jargon dan terkesan menjadi opini ketimbang ulasan berita yang menarik. Mungkin ekpektasi saya terlampu tinggi tapi mengingat harian sebesar Kompas, rasanya wajar bila saya berharap bahwa ulasan berita (ataupun kutipan atas kutipan berita) Kompas lebih baik kualitasnya. Saya kutip paragraf awal ulasan tersebut :

 

Spekulan berduit banyak, yang mencari untung dari naik turunnya harga saham dan komoditas, telah menjadi musuh dunia. Jika mereka berada di bawah kekuasaan Orde Baru di Indonesia, mereka bisa dituduh melakukan subversi ekonomi. Mengapa? Merekalah yang membuat ekonomi dunia terancam resesi lewat spekulasi yang menyebabkan krisis kredit di sektor perumahan AS

 

Saya bukanlah lulusan jurnalistik, namun membaca paragraf awal saja menurut saya sangat tidak pas mengaitkan konteks spekulan (entah berduit banyak atau tidak) dengan konteks kekuasaan orde baru apalagi subversi ekonomi. Paragraf pertama praktis tidak memberikan makna apa pun kecuali jargon. Kita mungkin tidak menyukai aksi spekulasi, tetapi mengidentikkan spekulan sebagai musuh yang seolah-olah melakukan aksi yang harus diperangi, rasanya menjadi lucu. Paragraf yang mestinya lebih pas untuk koran atau majalah kampus ketimbang harian sebesar Kompas.

 

Kekeliruan (yang cukup fatal) lain, saya kutip disini:

 

“…..Posisi short adalah sebutan bagi aksi spekulan yang mencari untung, walau juga bisa rugi, dari transaksi-transaksi spekulatif jangka pendek untuk keuntungan jangka pendek…..”

 

“….Para spekulan menggunakan dana-dana itu berspekulasi di pasar minyak. Mereka mengambil posisi short untuk spekulasi bahwa harga minyak akan naik. Tidak heran jika harga minyak akan mendekati level 100 dollar AS per barrel. Mereka memainkan isu geopolitik yang memanas untuk mendongkrak harga lebih tinggi lagi…”

 

Dua kutipan paragraf diatas menunjukkan bahwa penulis tidak begitu paham makna dari “short position” dalam istilah keuangan. Ini terlihat dengan membaca kutipan paragraf pertama yang tidak konsisten. bagaimana mungkin mereka (spekulan) melakukan posisi short yang bertujuan mencari untung tetapi (ditulis) “walau juga bisa rugi”.

 

Posisi short dalam istilah keuangan artinya posisi “menjual” aset dan posisi long itu posisi “membeli” aset. Istilah short dan long position tidak sama dengan short atau long terms dalam konteks memegang aset (maksudnya memegang aset dalam jangka pendek atau jangka panjang).

 

Tidak mengertinya sang penulis dengan apa yang diulas lebih jelas lagi pada kutipan paragaraf kedua. Kalimat “Mereka mengambil posisi short untuk spekulasi bahwa harga minyak akan naik” menjadi ambigu. Bila konteks spekulasi diartikan dengan ekspektasi, maka aksi spekulasi “standar” dalam situasi ini mestinya melakukan posisi long (long position yang artinya membeli aset) dan bukan posisi short. Artinya membeli aset ketika aset tersebut diperkirakan akan meningkat nilainya di masa yang akan datang.

 

Posisi short yang mungkin dimaksud penulis adalah durasi memegang aset yang bersifat jangka pendek, tapi sebagaimana mana yg dibahas diatas, posisi short adalah posisi menjual dan tidak ada kaitannya dengan soal lama memegang aset.

 

Membaca ulasan ini seluruhnya pada akhirnya seperti membaca ulasan strategi perang. Padahal situasinya jauh dari itu. Mungkin ada baiknya bila jurnalis Kompas melihat bagaimana harian the Guardian (yang beritanya dikutip dan diulas oleh Kompas) mengulas suatu berita.

1 Komentar

Filed under jurnalisme