Dalam sebuah assignment tentang Social Welfare dan Game Theory untuk mata kuliah Microeconomics Analysis 1 kami diberi pertanyaan bonus-kalau dapat menjawab benar bisa mendapatkan score bonus. Pertanyaannya kira-kira seperti ini, ada dua orang mahasiswa ekonomi yang procrastinating (terjemahan kasar: suka mengulur-ulur urusan) memutuskan untuk menonton film bersama di bioskop.
Mahasiswa pertama, A, memiliki preferensi yang sama (indifferent) antara menonton di Paddington (salah satu suburb di Sydney) dengan Leichhardt (suburb di Sydney). Mahasiswa kedua, B, lebih suka menonton di Leichhardt ketimbang di Paddington. Si B mengetahui dan yakin bahwa temannya, si A, indifferen antara menonton di Paddington dengan menonton di Leichhardt-dan keyakinan ini benar adanya.
Sementara si A tahu kalau si B ini lebih menyukai menonton di Leichhardt ketimbang Paddington. Tanpa saling memberitahu, masing-masing mahasiswa meluncur ke bioskop. Sialnya, keduanya justru tidak saling ketemu. A berada di Leichhardt sementara B berada di Paddington. Mengapa ini bisa terjadi?
Pasti anda menjawab “jelas aja orang mereka gak saling kasih tahu dan telpon-telponan”…he..he.(jawaban masuk akal). Tetapi berhubung saya dapat full-mark untuk assignment ini plus score bonusnya
, setidaknya saya menawarkan jawaban yang mungkin “agak terlihat akademis”.
Jawaban saya: ini bisa terjadi karena pasti salah satu mahasiswa tidak mengetahui informasi penting lain yang ada. Dan mahasiswa yang mengetahui informasi tersebut tidak mengetahui kalau temannya tidak mengetahui informasi tersebut. Alasannya, masing-masing sebetulnya mengetahui preferensi masing-masing: yaitu A mengetahui bahwa B lebih menyukai Leichhardt ketimbang Paddington, dan B mengetahui bahwa A indifferen antara Leichhardt dan Paddington.
Namun ini belum mampu untuk menjelaskan mengapa mereka tidak bertemu satu sama lain. Sementara itu, apa yang hilang dari cerita (pertanyaan) ini adalah, bisa jadi B tidak mengetahui kalau A tahu bahwa si B lebih suka menonton di Leichhardt. Kalau saja si B tahu bahwa A mengetahui bahwa dirinya (si B) menyukai Leichhardt ketimbang Paddington, ditambah informasi bahwa A indifferen antara kedua tempat ini, si B tentunya akan ke Leichhardt dan keduanya bertemu disana. Atau sebaliknya.
Problem ini dalam bahasa ekonom (sebetulnya bahasanya para game-theorist) dikenal sebagai “a violation of common knowledge” dari pilihan-pilihan strategi yang ada (yang dimaksud strategi disini adalah pilihan antara pergi ke Paddington dengan ke Leichhardt). Sementara yang dimaksud dengan common knowledge kasarnya seperti ini “saya tahu kalau kamu mengetahui kalau saya lebih suka Leichhardt”. Dalam kasus ini si B tidak mengetahui kalau si A mengetahui kalau si B itu sebetulnya menyukai Leichhardt. Atau juga si B tidak mengetahui kalau si A tidak mengetahui adanya informasi (lainya) yang penting.
Saya masih ingat ketika membaca buku Malcolm Gladwell Tipping Point. Dalam salah satu chapter Gladwell mengulas sebuah studi psikologi yang melakukan survei beberapa responden secara terpisah dan mereka diberi pertanyaan aneh. Pertanyaannya kira-kira seperti ini “bila anda berjanji dengan seorang teman dan anda tidak saling menghubungi, maka dimana kira-kira anda akan menunggu teman anda”. Kebanyakan memilih Grand Central Terminal. Gladwell berpendapat bahwa ini disebabkan oleh apa yang dia sebut sebagai “The stickiness factor”. Artinya imej Grand Central Terminal sudah sedemikian melekatnya sehingga ketika orang berpikir tentang New York, Grand Central Terminal sudah ada di benak mereka. Pendeknya kalau ada dua orang berjanji bertemu, dan mereka tanpa saling memberitahu dimana mereka akan bertemu. Maka mereka akan bertemu di stasiun itu.
Tentu saja, menurut saya, hipotesa Gladwell belum cukup kuat menjelaskan fenomena itu. Alasannya bahwa , katakanlah, si A memilih GCT daripada tempat lain tentu bukan saja karena GCT berada di benak A tetapi si A tahu bahwa si B pun tahu kalau A memiliki preferensi untuk bertemu di GCT. Common knowledge menjelaskan mengapa dua orang bisa saling bertemu tanpa harus secara eksplisit saling menginformasikan.
Obrolan ini terkait ketika saya pulang menuju Sydney dari Brisbane. Di depan saya duduk seorang pria Australia yang seperti memperhatikan saya ketika saya bicara tentang Jakarta dan Indonesia dengan seorang Australia yang lain. Tiba-tiba dia bertanya apakah saya dari Indonesia dan dari kota mana. Ternyata dia bilang ke saya bahwa dia pernah tinggal di Jakarta dan Bali. Pantas saja dia lirik-lirik
.
Dia cerita banyak, mulai dari hubungan Indonesia-Australia yang ruwet, politik Australia yang juga korup dan, saya tangkap dari obrolannya, rasa simpati terhadap kejadian yang menimpa Indonesia belakangan ini. Tapi yang menarik lain buat saya, dia cerita bagaimana di Jakarta orang berkendaraan main selonong-boy, sabet sana-sini…he.h.e. Dan dia merasa aneh kok mereka bisa selamat sampai tujuan (meski dia mungkin belum tau aja kalau tetap saja ada kecelakaan). Dia tidak bisa membayangkan gimana jadinya kalau orang Jakarta itu suka minum dan berkendaraan seperti sekarang ini. Weleh gak kebayang deh.
Sebetulnya kasus ini juga sama kalau anda pergi ke mall-mall yang sedang penuh-penuhnya. Anda berjalan tergesa-gesa, cepat tapi anda bisa berjalan tanpa menabrak orang lain yang bergerak sama sibuknya dengan anda. Atau pengamatan saya kalau sedang jalan-jalan di downtown Sydney pada waktu jam kerja. Tiap-tiap orang berjalan dengan cepat dan tidak satu dua orang tetapi kerumunan. Bagaimana mungkin kerumunan ini bisa tidak saling menabrak satu sama lain. Padahal masing-masing orang bergerak tanpa saling berkoordinasi posisi dan tanpa saling memberitahu secara eksplisit arah mana mereka bergerak.
Satu penjelasan saya (mungkin saja saya salah), mungkin karena adanya common knowledge yang spontan. Kasusnya sama seperti di atas sebelumnya. Tetapi kali ini dalam konteks yang berbeda. Ketika kita berjalan, kita sebetulnya memberikan sinyal. Tetapi sinyal ini bukan bernada perintah-seperti gue mo jalan di kiri, berarti elu harus jalan di kanan. Tetapi lebih seperti ini “gue tahu kalo elu tahu kalau gue bakal jalan di kiri”.
Semakin kita bergerak cepat, semakin sering mengirim sinyal semacam ini dan semakin sensitif kita terhadap sinyal dari orang lain. Dengan begitu kita semakin bisa menghindari kemungkinan terjadinya tabrakan. Tapi, dalam kasus berkendaraan, saya tidak lantas menganjurkan untuk main sabet sana sini dengan alasan ini
Tapi saya mencoba mencari alasan mengapa di Jakarta yang seruwet (dan sabet sana sini) mengalami kecelakaan yang relatif tidak besar. Sayang saya belum bisa membuktikan empiris hal ini. Mungkin saja ide saya salah.