Agustus 6, 2007

Tentang Insentif

Satu komentar teman non ekonom (sosiolog muda dan ternama Indonesia :D ) tentang insentif yang menarik sekali disimak (terutama untuk ekonom). Roby menulis :

Di Amerika saya sangat kritis terhadap ilmu ekonomi yang berlebihan menggukan (sic!) konsep insentif. Segalanya dijelaskan dengan insentif sehingga konsep insentif menjadi tautologi: terjadi karena ada insentif, dan ada insentif karena terjadi.

Atau kalau saya terjemahkan dalam bahasa ilmu ekonomi, pertanyaannya menjadi “apakah insentif itu variabel eksogen atau endogen”, “apakah ia diluar sistem atau justru merupakan bagian dari sistem itu sendiri?. Ini sulit dijawab dan tidak terpikirkan oleh saya sebelumnya.

Sebelum baca posting ini. Saya beranggapan bahwa insentif adalah variabel eksogen, ia hadir dan mempengaruhi perilaku individu (ataupun agen ekonomi). Tetapi kenyataannya insentif tidak sepenuhnya variabel eksogen. Misalnya dalam contoh ini: pemerintah memberikan insentif untuk sektor swasta bergerak-dari sudut ini insentif seolah menjadi faktor eksogen, sesuatu yang berasal dari luar dan mempengaruhi perilaku sektor swasta. Akan tetapi perilaku pemerintah yang “memberikan” insentif juga merupakan akibat dari perilaku-perilaku lain, termasuk perilaku sektor swasta.

Untuk sementara saya masih mencari jawabannya. Tetapi beberapa pikiran saya. Ilmu ekonomi tradisional sepertinya menempatkan insentif sebagai sesuatu yang eksogen dan perilaku-perilaku individu mengikuti insentif. Namun saya coba menoleh pada apa yang ditawarkan oleh game-theory. Saya pikir, game-theory menjawab problem apakah insentif itu eksogen atau endogen. Pay-off (tetapi bukan besaran pay-off itu sendiri) dari pilihan strategi individu (agen) menempatkan insentif sebagai sesuatu yang eksternal. Akan tetapi strategi yang tersedia ataupun pilihan strategi para agen menjadikan insentif sebagai sesuatu yang endogen (perilaku saya dipengaruhi oleh perilaku lawan saya, begitu pula sebaliknya). Tetapi ini jawaban yang terlampau dini. Mungkin ada yang bisa menambahkan?

Agustus 6, 2007

Tentang Perdagangan Bebas: Komentar

Sepertinya saya mesti mengalokasikan satu posting mengenai komentar beberapa teman mengenai isu perdagangan bebas. Komentar pertama dari bung Rifqi (kawan kuliah dulu di FEUI). Bung Rifqi mengomentari soal “arus liberalisasi” yang menganggap bahwa perdagangan hanya terjadi antar anak perusahaan multinasional. Bung, persepsi ini mungkin berangkat dari anggapan bahwa perusahaan multinasional seperti peng-ekstrak, membawa sumber daya alam dari satu negara dan membawanya ke negara lain. Tentu saja anggapan ini tidak benar. Alasannya sederhana, ketika satu perusahaan multinasional berada di satu negara, maka transaksi dan pertukaran tidak akan terhindarkan. Jelas, tidak mungkin ada ekstraksi tanpa transaksi.

Kritik lalu muncul: bukankah transaksi yang ada lebih sering tidak adil-menguntungkan perusahaan multinasional dan merugikan pekerja negara berkembang, sebut saja kasus Nike dengan pekerja lokal? Para pengkritik seringkali menganggap bahwa perusahaan multinasional memiskinkan penduduk di negara-negara berkembang, membayar upah rendah dengan kondisi kerja yang tidak layak.

Tentu poin penting disini (sebagaimana juga dikemukakan oleh Krugman dan Obstfeld), bukan pada soal layak atau tidak layak pekerja-pekerja itu dibayar dengan upah yang rendah. Pertanyaan yang lebih relevan semestinya adalah apakah situasi pekerja-pekerja itu menjadi lebih buruk dengan memproduksi barang dengan upah yang rendah ketimbang menolak hadirnya perusahaan-perusahaan itu. Lalu, penting juga, adakah alternatif lain?

Studi empiris dari Drusilla K. Brown, Alan V. Deardorff, Robert M. Stern (2003) disini justru menemukan bahwa ternyata perusahaan multinasional membayar upah yang lebih tinggi dan memberikan kondisi kerja yang lebih nyaman ketimbang perusahaan lokal.

Komentar kedua dari bung Rifqi. Anggapan bahwa petani menanam beras ataupun tebu karena “tradisi” sebetulnya tidak tepat. Almarhum Clifford Geertz dalam bukunya “Agricultural Involution” menunjukkan dengan gamblang sekali bahwa petani merespon perubahan harga. Dalam salah satu bab, beliau mengulas bahwa program irigasi turut meningkatkan produktivitas tanah bagi tanaman padi dan karenanya banyak petani mengalokasikan sebagian besar lahannya untuk persawahan padi. Sementara itu lahan-lahan yang relatif tidak subur ditanam tanaman tebu.

Dalam bahasa saya: irigasi membuat menanam padi secara relatif lebih menguntungkan ketimbang menanam tebu. Petani merespon ini dengan mengalokasikan lahannya yang dekat jalur irigasi untuk padi dan menempatkan tanaman tebu pada tempat yang relatif tidak subur dan jauh dari jalur irigasi. Apa implikasinya? Tanaman tebu dan produksi gula tebu menjadi tidak ekonomis lagi-karena lokasi tempat tebu ditanam berada pada tempat tidak subur, jauh dari jalur irigasi dan transportasi, yang pada akhirnya meningkatkan biaya produksi. Pabrik-pabrik gula mulai megap-megap menghadapi perilaku petani ini-karena ini meningkatkan biaya pengolahan.

Adalah tidak mengherankan bila banyak pabrik-pabrik gula di Jawa senang sekali mengatakan (menganggap) bahwa menanam tebu adalah “tradisi” turun temurun. Perlu diingat juga, tebu merupakan komoditas populer yang dipraktekkan oleh kolonialis belanda dalam zaman tanam paksa. Apakah memang ini yang dimaksud dengan “tradisi”?

Menyoal perilaku negara maju yang memproteksi komoditas pertanian mereka, saya setuju sekali bahwa ini memang hal yang mengganjal perdagangan internasional yang lebih bebas. Tetapi saya berada dalam posisi yang sama dengan Joan Robinson-ekonom kenamaan Inggris. Beliau mengatakan bila negara lain menghancurkan pelabuhannya (dengan memproteksi perdagangan ataupun subsidi) maka tidak ada alasan kita untuk melakukan hal yang sama. Poinnya, membuka pintu kita, meski negara lain menutupnya dengan proteksi, masih tetap menguntungkan.

Selain itu, subsidi produk pertanian sebetulnya menguntungkan negara berkembang yang sangat tergantung sekali dari impor produk-produk pertanian negara maju. Alasannya, karena yang disubsidi oleh negara maju sebetulnya bukan saja petani-petani mereka, tetapi juga konsumen di negara-negara berkembang yang mengimpor produk-produk pertanian dari mereka-karena membayar pada harga yang lebih murah. Tentu saja kasusnya tidak selalu sama antar negara berkembang, Brazil, misalnya, yang memang menghadapi hambatan serius dari akses pasar produk pertanian di AS. Artinya melihat isu pertanian secara spesifik dan tidak dengan memukul rata tentu membuat kita lebih bijak.

Komentar lain datang dari senior saya, Bayuni :D di blognya. Ini memang agak rumit kasusnya, karena isunya adalah antara standarisasi (menyangkut kesehatan dan keamanan konsumen ) dan, mungkin juga, hambatan perdagangaan yang terselubung. Akan tetapi kejadian ini tidak bisa diselesaikan tanpa peran pemerintah (ini salah satu contoh kegagalan pasar). Dan tentunya negosiasi perdagangan atau perselisihan perdagangan internasional merupakan barang publik dimana peran pemerintah sangat urgen-saya pikir ini lebih urgen ketimbang menentukan industri unggulan. Saya kurang paham soal penyelesaian perselisihan perdagangan tingkat internasional akan tetapi seingat saya WTO memang menyediakan mekanisme itu.

Semoga posting ini bisa menjawab komentar teman-teman.

 

 

 

 

Agustus 6, 2007

You Tube dan Indonesia Raya

Pagi ini saya buka situs detik dan membaca tentang klaim temuan Roy Suryo tentang lagu Indonesia Raya versi 3 stanza. Detik menulis tentang klaim Roy Suryo dan tim-nya yang menemukan klip lagu itu di server milik Belanda. Namun disaat bersamaan detik juga mengulas surat pembaca yang mengatakan bahwa temuan Roy Suryo bukan hal yang baru sama sekali. Kebanyakan mereka memberikan link klip tersebut di You Tube yang sudah ada sejak 19 Desember 2006-sekitar 9 bulan lalu.

Seingat saya, saya juga pernah membaca teks Indonesia raya versi 3 Stanza ini. Meski belum sempat melihat klipnya. Tapi memang teknologi kini benar-benar fenomenal (terutama teknologi informasi, membuat orang sulit berbohong (atau sulit membohongi orang lain :D ). Karena orang banyak dengan mudahnya mengecek atau mengkonfirmasi berita lewat situs Google ataupun Wikipedia.

You Tube termasuk fenomenal juga. Berkat jasa baik seseorang yang rajin merekam dan meng-upload Empat Mata Tukul, saya jadi terhibur. Dua kali teman mengulas soal You Tube di sini dan ini.

Membaca komentar pembaca di Detik.com dan You Tube soal klaim Roy ini lucu juga…he..he..he..:D. Termasuk komentar bapak yang satu ini.

Juli 31, 2007

Berita baik dari Departemen Ekonomi CSIS

Ini sebetulnya berita lama tentang kolega saya yang diberi tahu oleh Philips, teman peneliti CSIS yang kini sedang mengambil studi doktoral kajian ilmu politik di NIU, Amerika Serikat. Kabar baiknya, Arya Gaduh mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi doktoral di University of Southern California. Beberapa bulan sebelumnya saya juga mendengar kabar kalau Puspa D Amri (Puspini :D ) mendapatkan beasiswa Fulbright dan diterima di Claremont University untuk melanjutkan studi doktoral pada bidang Ekonomi Politik. Selain itu Imelda Maidir (imung) juga mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan studi master pada Lee Kuan Yew School of Public Policy, NUS.

Berita baik lainnya, dari milis komunitas jurusan departemen ekonomi UI, saya mendapat kabar kalau Dionisius (Donie) yang baru menyelesaikan PhD di ANU, Australia, (gak baru-baru banget sih :D )  mendapatkan grant untuk riset dari “2006 East Asian Development Network (EADN) Individual Research Grant (IRG) Competition”. Kompetisi yang dilakukan secara internasional dan pastinya kompetitif.

Buat mereka, “selamet ye!!….he…he..he :D “. Wah nanti pas pulang ke CSIS bisa sepi nih.

Juli 30, 2007

Berbalik Arah…

Siang ini saya membuka situs Kompas dan membaca Analisis Ekonomi yang ditulis bang Faisal Basri (kami terbiasa memanggilnya begitu). Beliau itu dosen saya untuk mata kuliah Ekonomi Politik di FEUI. Hubungan antara bang Faisal dan kami mahasiswa sangat dekat. Mungkin juga karena kelas kami yang kecil, seingat saya hanya ada 7 orang mahasiswa yang ambil mata kuliah itu termasuk saya. Dan tidak jarang bang Faisal mentraktir kami yang mahasiswa dengan uang cekak makan siang yang enak…he.h.e.he. Lebih dari itu bang Faisal merupakan pintu kami ke literatur terbaru, beliau sering meminjamkan buku-buku terbaru untuk difotokopi dikalangan mahasiswa. Saya masih ingat ketika ia berbicara soal Mancur Olson dengan teori Collective Action. Saya rasa beliau sangat mengangumi karya Olson, karena beberapa buku terjemahan Olson di Indonesia diterjemahkan oleh bang Faisal.

Tapi figur bang Faisal bagi saya lebih dari sekedar dosen. Kala itu saya menganggapnya sebagai ekonom libertarian-dan lebih dari itu, ekonom yang menyadari posisinya secara ideologis (kebanyakan ekonom saat itu tidak sadar atau tidak ambil peduli soal ideologi). Saya anggap dia sebagai libertarian karena ide-idenya, setidaknya yang saya tangkap dari ruang kuliah, sangat mendukung intervensi negara yang minimal dan kebebasan individu dalam ekonomi dan politik. Pengenalan saya atas karya-karya Ludwig Von Mises dan Friedrich Hayek juga dari beliau. Wajar saat itu saya yang masih lugu dalam filsafat ekonomi politik (he.h.e.he..he :D ) menganggapnya seperti dewa bagi kaum libertarian Indonesia :D .

Tapi tulisannya di Kompas kali ini menunjukkan sepertinya bang faisal berbalik arah. Sebetulnya ada beberapa tulisan sebelumnya yang mengindikasikan bahwa bang Faisal berjalan membelakangi idenya yang saya jumpai dulu dari ruang kelas. Demarkasi arah ide amat jelas terutama setelah beliau terjun ke politik praktis dan mencalonkan diri menjadi Gubernur DKI.

Di Kompas ia menulis:

Ada dua faktor yang menjadi kunci keberhasilan. Pertama, pemerintah mendukung sepenuhnya kegiatan riset dan pengembangan agar pengusaha-pengusaha Indonesia selalu melahirkan invensi dan inovasi berkelanjutan. Sementara itu, para investor asing didorong membangun pusat-pusat pengembangan produk di sini. Tentu diperlukan insentif untuk memacu kegiatan seperti itu.

Kedua, pemerintah harus memiliki kebijakan industrial yang jelas, terutama bagaimana mengharmoniskan berbagai kebijakan setiap departemen sehingga satu sama lain saling dukung, bukan saling “jegal”. Kebijakan ekspor dan impor kulit, misalnya, menjadi salah satu kendala yang membuat industri sepatu kesulitan bahan baku

Terdengar masuk akal ketika kita membaca argumentasinya tetapi seringkali kita lupa bahwa dukungan pemerintah seringkali menjadi proteksi berbiaya tinggi. Saya tentu ingin melihat industri kita maju. Dan saya selalu yakin bahwa kebijakan industri yang jelas adalah kebijakan yang minim intervensi. Tetapi pengalaman lebih sering menunjukkan bahwa kebijakan dengan intervensi plus “insentif” menjadi tidak bijak-meski tidak semuanya.

Disini kita tidak tahu sebetulnya definisi bang Faisal dengan kebijakan industrial yang jelas seperti apa. Sementara itu kebijakan industrial sering diinterpretasikan dengan cara memunculkan sektor-sektor unggulan. Kebijakan ini lebih sering menjadi kamuflase. Pemerintah memproteksi satu sektor dengan biaya tinggi sembari mengorbankan sektor lain yang memiliki potensi tinggi. Semua demi alasan kebijakan industri unggulan.

Masih ingat kelakar Chatib Basri (bang Dede, ekonom dan dosen saya ketika S1 ekonomi di UI dulu dan juga, saya rasa, ia salah satu pengagum Faisal Basri) dalam sebuah konferensi internasional beberapa waktu lalu di Sydney. Beliau mengatakan “the government is really bad in picking the winners but the losers are really good in picking the government

Apakah bang Faisal mengabaikan kemungkinan ini? Sepertinya begitu. Tetapi ia memang sudah berbalik arah, tentunya dari sudut pandang saya.

Tulisan serupa dari kolega saya di CSIS, Ari Perdana, juga membahas isu tentang Nike dari arah yang berbeda.

Juli 23, 2007

Antara kelapa sawit dan kamera digital: Mengapa perdagangan yang lebih bebas itu menguntungkan (2)

Tetapi kemudian ada orang yang berpikir picik. Sebut saja orang ini “merkantilis“. Merkantilis ini berpikir, kalau begitu bukankah lebih baik kita mengekspor poduk kita saja dan tidak mengimpor. Seperti biasa orang-orang merkantilis ini penganut fanatik common sense, yang sebetulnya sudah dibuktikan bahwa persepsi mereka salah kaprah pada argumen saya sebelumnya. Tetapi yang mereka tidak mengerti adalah kenyataan tidak mungkin terjadi ekspor tanpa impor karena pada prinsipnya impor dibiayai melalui ekspor.

Ketika kita mengekspor CPO ke Jepang (artinya Jepang mengimpor CPO dari Indonesia). Bank Sentral Jepang harus menyiapkan Rupiah untuk oang Jepang supaya bisa membeli CPO Indonesia. Tentu saja Bank Sentral Jepang mendapatkan Rupiah karena ada orang Indonesia yang menukarkan Rupiah dengan Yen untuk membeli kamera digital Jepang. Bila tidak ada impor tentu ekspor pun tidak mungkin. Sekali lagi pandangan para kaum merkantilis seperti ini dan ini terbukti salah.

Tetapi sialnya terlalu banyak orang yang mengaku-ngaku ekonom tapi sebetulnya penyembah common sense dan tidak bisa melihat keunggulan komparatif dan opportunity cost (untuk yang satu ini saya tidak mau menyebut nama). Mereka berargumen bahwa kita membutuhkan proteksi (pada kenyataannya ini meningkatkan hambatan perdagangan) agar industri kamera digital kita mampu bersaing. Mereka tidak bisa melihat bahwa perdagangan itu juga merupakan teknologi yang mampu mentransformasi barang-barang produksi[1]. Maklum saja karena mereka, sekali lagi, penganut setia common sense!!.

Dimana kesalahan fatal mereka? Sebetulnya ada dua teknologi yang bisa dipakai untuk memproduksi kamera digital. Teknologi pertama adalah dengan membangun pabrik di Indonesia dan memproduksi disini. Teknologi kedua adalah dengan menanam kelapa sawit di daerah Sumatera, mengapalkan dan mengirimnya ke Jepang, dan kembali dengan kamera digital. Sebagaimana yang telah saya singgung sebelumnya, teknologi yang kedua telah menghemat waktu produksi kita hingga sepertiganya.

Satu hal lain yang juga dilupakan oleh ekonom jenis ini adalah bahwa dengan memproteksi industri kamera digital luar negeri, yang dirugikan sebetulnya bukan produsen kamera digital luar negeri. Tetapi justru industri CPO kelapa sawit. Anda pasti bilang,..loh kok bisa???. Jawabannya terletak pada argumen bahwa tidak mungkin ada ekspor tanpa impor. Ketika kita memproteksi industri kamera digital-dengan alasan kemandirian dalam industri kamera, dan ekstremnya, tidak mengimpor sedikit pun kamera digital dari Jepang, maka orang Jepang tidak mungkin memiliki Rupiah untuk membeli CPO dari Indonesia. Pada akhirnya kita tidak mampu mengekspor sama sekali. Ini yang dilupakan ekonom-ekonom seperti ini. Siapakah mereka, nah silahkan anda menebak.

Lalu mengapa tidak semua orang menginginkan perdagangan yang lebih bebas? Ini rumitnya. Sepupu saya, menurut saya, sebetulnya pendukung perdagangan bebas-meski mungkin ia tidak sadar. Ia suka menceritakan berbagai macam tarif di Indonesia yang membuat harga barang-barang elektronik mahal. Ia pun kadang memesan temannya yang kebetulan sedang ke Singapore untuk membeli komputer. Ia mengetahui bahwa Singapore tidak mengenakan tarif tinggi untuk komponen elektronika ketimbang Indonesia. Tetapi sayangnya ia tidak memahami bahwa penduduk Singapore menikmati manfaat tinggi dari perdagangan yang lebih bebas ketimbang Indonesia. Orang seperti sepupu saya itu banyak jumlahnya namun karena banyaknya ini dan mereka lebih sering diam (mungkin juga karena tidak paham) manfaat dari perdagangan bebas tidak mengemuka.

Yang bermunculan justru kelompok-kelompok merkantilis. Dan tentu, yup…tentu saja, di Indonesia ada saja orang yang merasa dirinya mengetahui preferensi setiap penduduk Indonesia. Sepeti orang ini yang membuat adagium “kegagalan pemerintah lebih besar efeknya ketimbang kegagalan pasar” menemukan tempatnya.


[1] Saya memperoleh ide ini dari seorang ekonom David Friedman dalam Hidden Order, berkat buku Tim Harford

Juli 23, 2007

Antara kelapa sawit dan kamera digital : Mengapa perdagangan yang lebih bebas itu menguntungkan (1)*

Sepupu saya yang bekerja di salah satu jasa telematika terkenal memesan kamera digital merk terkenal ke saya (ia memesan antara Canon atau Nikon). Ia tinggal di Indonesia dan ia mungkin berpikir kamera digital di Australia akan lebih murah. Tetapi sayangnya tipe yang ia pesan jauh lebih mahal di Australia daripada di Indonesia. Akhirnya ia batal pesan.

Tapi apa yang ada dibenak sepupu saya rata-rata hampir ada dibenak kebanyakan orang Indonesia-bahkan dulu saya yang termasuk berpikir demikian. Berpikir bahwa barang elektronik lebih murah di negara maju ketimbang negara berkembang. Mungkin mereka berpikir karena negara maju, sebut seperti Jepang atau AS adalah negara asal produsen barang-barang elektronik. Sehingga harga barang elektronik yang dijual tidak termasuk ongkos kirim. Betul juga idenya.

Tetapi mungkin apa yang tidak diketahui sepupu saya (karena ia memang bukan ekonom :D ), sistem transaksi perdagangan dunia telah mengubah lokasi produksi. Sebagian besar produsen di negara maju merelokasi produksinya ke negara berkembang, sebut saja China ataupun India, meski tidak semuanya . Maka wajar teman kuliah saya yang berasal dari China mengatakan bahwa harga laptop Dell di China hampir setengahnya dari harga di Dell di Australia, tentu dengan tipe yang sama dan setelah harga dikonversikan ke dollar Australia.

Isu ini bukan hal baru sebetulnya. Kalau kita masih ingat Jepang pun sudah merelokasi sejumlah pabrik otomotifnya ke Indonesia sejak tahun 1980an-kalau saya tidak salah. Tapi postingan saya kali ini bukan tentang relokasi industri semacam. Tetapi lebih dasar lagi, soal perdagangan internasional.

Kita tidak mungkin menihilkan perdagangan internasional. Mengapa? Katakanlah ada dua negara Indonesia dan Jepang. Pekerja Indonesia mampu memproduksi satu ton Cude Palm Oil (CPO) dari kelapa sawit selama setengah jam (30 menit) dan sebuah kamera digital selama satu jam (60 menit). Sementara pekerja Jepang yang kabarnya pandai-pandai itu mampu memproduksi satu ton CPO dari kelapa sawit selama dua puluh menit dan hanya sepuluh menit untuk membuat 1 kamera digital.

Kalau Indonesia dan Jepang tidak saling berdagang, maka Indonesia menghabiskan waktu 90 menit untuk memproduksi sebuah kamera dan satu ton CPO. Sementara Jepang menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk memproduksi satu ton kelapa sawit dan sebuah kamera.

Lalu datanglah seorang ekonom. Ia mengatakan bahwa jumlah jam sehari hanya 24 jam (ini sudah pasti, semua orang juga tahu), artinya waktu juga sumber daya yang terbatas. Bukankah lebih baik kalau kita bisa menggunakan waktu kita untuk memproduksi barang yang lain selain kamera digital dan CPO. Kemudian sang ekonom mengeluarkan ide untuk spesialisasi dan menganjurkan untuk membuka perdagangan antara Indonesia-Jepang.

Mungkin common sense anda mengatakan, mana mungkin Jepang mau berdagang dengan Indonesia. Bukankah Jepang dalam banyak hal lebih baik dan efisien, lihat saja kenyataan bahwa mereka hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk memproduksi dua barang sementara Indonesia butuh waktu selama 90 menit. Intinya Jepang unggul dalam segala hal

Tentu saja sang ekonom akan langsung menjawab “ini alasan kenapa common sense adalah awal dari kekeliruan (bahasa inggrisnya: “common sense is a mother of failure” ).

Andaikata tidak ada hambatan perdagangan dan kedua negara berspesialisasi pada bidang yang diangap unggul. Sebut saja Jepang berspesialisasi mempoduksi kamera digital dan Indonesia memproduksi CPO. Dengan begitu, Indonesia bisa memproduksi 2 ton CPO (selama 60 menit) dan Jepang mampu memproduksi dua kamera digital (selama 20 menit). Lantas Jepang mejual 1 kamera canon-nya dengan 1 ton CPO dari Indonesia.

Sekarang Jepang memiliki 1 ton CPO dan 1 kamera digital, Indonesia pun demikian. Tetapi lihat berapa jumlah waktu yang bisa dihemat, Indonesia menghemat 30 menit sementara Jepang juga menghemat waktu 10 menit. Masing-masing diuntungkan dengan perdagangan karena masing-masing memperoleh tambahan waktu sepertiganya dari total waktu memproduksi dua barang pada kondisi sebelumnya. Tambahan waktu yang bisa digunakan untuk aktivitas lainnya.

Bukankah ini menunjukkan bahwa perdagangan lebih menguntungkan. Prinsip ini dalam bahasa ekonom dikenal dengan comparative advantage. Ide yang dicetuskan oleh kakek dari teori perdagangan intenasional (he..he..bukan bapak). Prinsip ini secara garis besar menekankan bahwa akan lebih menguntungkan bagi setiap negara berspesialisasi pada produk yang dianggapnya memiliki keunggulan secara komparatif dan berdagang satu sama lain.

Poin penting disini, perdagangan antar bangsa membawa manfaat bagi semua pihak. Menghilangkan hambatan perdagangan tentu sama saja dengan meningkatkan manfaat yang dapat kita peroleh.

*Ide ini diperoleh ketika membaca buku Tim Harford, The Undercover Economist.

Juli 21, 2007

Apa yang menarik semester ini?

Jawabannya tentu saja mata kuliah yang bakal saya ambil. Semester depan saya akan mengambil mata kuliah: 1) International Money and Finance (identik dengan International Macroeconomics) 2) International Trade 3) Econometric Applications dan 4)Microeconomics Analysis 2. Untung saja saya memperoleh nilai yang lumayan ketika mengambil Microeconomics Analysis 1, sehingga bisa mengambil mata kuliah lanjutan (Micro Analysis 2).

Untuk mata kuliah International Trade, liburan belum berakhir dosen saya sudah mengirim outline kuliah, lengkap dengan materi kuliah termasuk bahan bacaan yang wajib dibaca. Textbook utama untuk mata kuliah ini “Advanced International Trade: Theory and Evidence” karya R.C Feenstra ditambah buku yang lebih dasar namun amat berguna untuk refresing teori-teori perdagangan, yaitu, “International Economics: Theory and Policy” karya Paul Krugman dan Maurice Obstfeld. Lucunya buku Krugman dan Obstfeld ini harganya hampir tiga kali lipat dari yang pertama. Wah minggu-minggu ini sudah mulai meronggoh atm buat beli buku :D .

Juli 21, 2007

Saya tahu kalau kamu tahu kalau saya tahu….(I know that you know that I know..)

 

Dalam sebuah assignment tentang Social Welfare dan Game Theory untuk mata kuliah Microeconomics Analysis 1 kami diberi pertanyaan bonus-kalau dapat menjawab benar bisa mendapatkan score bonus. Pertanyaannya kira-kira seperti ini, ada dua orang mahasiswa ekonomi yang procrastinating (terjemahan kasar: suka mengulur-ulur urusan) memutuskan untuk menonton film bersama di bioskop.

 

Mahasiswa pertama, A, memiliki preferensi yang sama (indifferent) antara menonton di Paddington (salah satu suburb di Sydney) dengan Leichhardt (suburb di Sydney). Mahasiswa kedua, B, lebih suka menonton di Leichhardt ketimbang di Paddington. Si B mengetahui dan yakin bahwa temannya, si A, indifferen antara menonton di Paddington dengan menonton di Leichhardt-dan keyakinan ini benar adanya.

 

Sementara si A tahu kalau si B ini lebih menyukai menonton di Leichhardt ketimbang Paddington. Tanpa saling memberitahu, masing-masing mahasiswa meluncur ke bioskop. Sialnya, keduanya justru tidak saling ketemu. A berada di Leichhardt sementara B berada di Paddington. Mengapa ini bisa terjadi?

 

Pasti anda menjawab “jelas aja orang mereka gak saling kasih tahu dan telpon-telponan”…he..he.(jawaban masuk akal). Tetapi berhubung saya dapat full-mark untuk assignment ini plus score bonusnya :D , setidaknya saya menawarkan jawaban yang mungkin “agak terlihat akademis”.

 

Jawaban saya: ini bisa terjadi karena pasti salah satu mahasiswa tidak mengetahui informasi penting lain yang ada. Dan mahasiswa yang mengetahui informasi tersebut tidak mengetahui kalau temannya tidak mengetahui informasi tersebut. Alasannya, masing-masing sebetulnya mengetahui preferensi masing-masing: yaitu A mengetahui bahwa B lebih menyukai Leichhardt ketimbang Paddington, dan B mengetahui bahwa A indifferen antara Leichhardt dan Paddington.

 

Namun ini belum mampu untuk menjelaskan mengapa mereka tidak bertemu satu sama lain. Sementara itu, apa yang hilang dari cerita (pertanyaan) ini adalah, bisa jadi B tidak mengetahui kalau A tahu bahwa si B lebih suka menonton di Leichhardt. Kalau saja si B tahu bahwa A mengetahui bahwa dirinya (si B) menyukai Leichhardt ketimbang Paddington, ditambah informasi bahwa A indifferen antara kedua tempat ini, si B tentunya akan ke Leichhardt dan keduanya bertemu disana. Atau sebaliknya.

 

 

Problem ini dalam bahasa ekonom (sebetulnya bahasanya para game-theorist) dikenal sebagai “a violation of common knowledge” dari pilihan-pilihan strategi yang ada (yang dimaksud strategi disini adalah pilihan antara pergi ke Paddington dengan ke Leichhardt). Sementara yang dimaksud dengan common knowledge kasarnya seperti ini “saya tahu kalau kamu mengetahui kalau saya lebih suka Leichhardt”. Dalam kasus ini si B tidak mengetahui kalau si A mengetahui kalau si B itu sebetulnya menyukai Leichhardt. Atau juga si B tidak mengetahui kalau si A tidak mengetahui adanya informasi (lainya) yang penting.

Saya masih ingat ketika membaca buku Malcolm Gladwell Tipping Point. Dalam salah satu chapter Gladwell mengulas sebuah studi psikologi yang melakukan survei beberapa responden secara terpisah dan mereka diberi pertanyaan aneh. Pertanyaannya kira-kira seperti ini “bila anda berjanji dengan seorang teman dan anda tidak saling menghubungi, maka dimana kira-kira anda akan menunggu teman anda”. Kebanyakan memilih Grand Central Terminal. Gladwell berpendapat bahwa ini disebabkan oleh apa yang dia sebut sebagai “The stickiness factor”. Artinya imej Grand Central Terminal sudah sedemikian melekatnya sehingga ketika orang berpikir tentang New York, Grand Central Terminal sudah ada di benak mereka. Pendeknya kalau ada dua orang berjanji bertemu, dan mereka tanpa saling memberitahu dimana mereka akan bertemu. Maka mereka akan bertemu di stasiun itu.

 

Tentu saja, menurut saya, hipotesa Gladwell belum cukup kuat menjelaskan fenomena itu. Alasannya bahwa , katakanlah, si A memilih GCT daripada tempat lain tentu bukan saja karena GCT berada di benak A tetapi si A tahu bahwa si B pun tahu kalau A memiliki preferensi untuk bertemu di GCT. Common knowledge menjelaskan mengapa dua orang bisa saling bertemu tanpa harus secara eksplisit saling menginformasikan.

 

Obrolan ini terkait ketika saya pulang menuju Sydney dari Brisbane. Di depan saya duduk seorang pria Australia yang seperti memperhatikan saya ketika saya bicara tentang Jakarta dan Indonesia dengan seorang Australia yang lain. Tiba-tiba dia bertanya apakah saya dari Indonesia dan dari kota mana. Ternyata dia bilang ke saya bahwa dia pernah tinggal di Jakarta dan Bali. Pantas saja dia lirik-lirik :D .

 

Dia cerita banyak, mulai dari hubungan Indonesia-Australia yang ruwet, politik Australia yang juga korup dan, saya tangkap dari obrolannya, rasa simpati terhadap kejadian yang menimpa Indonesia belakangan ini. Tapi yang menarik lain buat saya, dia cerita bagaimana di Jakarta orang berkendaraan main selonong-boy, sabet sana-sini…he.h.e. Dan dia merasa aneh kok mereka bisa selamat sampai tujuan (meski dia mungkin belum tau aja kalau tetap saja ada kecelakaan). Dia tidak bisa membayangkan gimana jadinya kalau orang Jakarta itu suka minum dan berkendaraan seperti sekarang ini. Weleh gak kebayang deh.

 

Sebetulnya kasus ini juga sama kalau anda pergi ke mall-mall yang sedang penuh-penuhnya. Anda berjalan tergesa-gesa, cepat tapi anda bisa berjalan tanpa menabrak orang lain yang bergerak sama sibuknya dengan anda. Atau pengamatan saya kalau sedang jalan-jalan di downtown Sydney pada waktu jam kerja. Tiap-tiap orang berjalan dengan cepat dan tidak satu dua orang tetapi kerumunan. Bagaimana mungkin kerumunan ini bisa tidak saling menabrak satu sama lain. Padahal masing-masing orang bergerak tanpa saling berkoordinasi posisi dan tanpa saling memberitahu secara eksplisit arah mana mereka bergerak.

 

Satu penjelasan saya (mungkin saja saya salah), mungkin karena adanya common knowledge yang spontan. Kasusnya sama seperti di atas sebelumnya. Tetapi kali ini dalam konteks yang berbeda. Ketika kita berjalan, kita sebetulnya memberikan sinyal. Tetapi sinyal ini bukan bernada perintah-seperti gue mo jalan di kiri, berarti elu harus jalan di kanan. Tetapi lebih seperti ini “gue tahu kalo elu tahu kalau gue bakal jalan di kiri”.

Semakin kita bergerak cepat, semakin sering mengirim sinyal semacam ini dan semakin sensitif kita terhadap sinyal dari orang lain. Dengan begitu kita semakin bisa menghindari kemungkinan terjadinya tabrakan. Tapi, dalam kasus berkendaraan, saya tidak lantas menganjurkan untuk main sabet sana sini dengan alasan ini :D Tapi saya mencoba mencari alasan mengapa di Jakarta yang seruwet (dan sabet sana sini) mengalami kecelakaan yang relatif tidak besar. Sayang saya belum bisa membuktikan empiris hal ini. Mungkin saja ide saya salah.

Juli 19, 2007

Mengapa sebotol air mineral lebih mahal daripada sekaleng Coca Cola? (2)

Kini, saatnya mengeluarkan pisau ekonom untuk membedah tabir misteri :D . Pertama kita lihat dari prinsip kelangkaan (scarcity). Dari sudut kelangkaan, tentu saja air mineral tidak langka dalam artian bahwa saya sebenarnya bisa mendapatkan alternatif yang sama baiknya yaitu tap water yang justru gratis.

Kita masuk ke prinsip kedua, prinsip marginal utility (arti kasar dalam bahasa Indonesia: tambahan kepuasan karena adanya tambahan satu unit konsumsi barang). Karena pas makan siang tadi saya memesan Coca Cola dan bukan air mineral, maka praktis marginal utillty saya dari air mineral itu sebesar nol. Berhubung saya haus karena coke dan saya pikir air putih akan menghilangkan rasa haus saya, maka sekali saya mengkonsumsi air mineral nilai marginal utility saya akan positif. Semakin saya haus, semakin saya membutuhkan air mineral, semakin sulit saya menemukan alternatif lain, maka semakin besar nilai marginal utility saya ketika saya mengkonsumsi sebotol air mineral (anggap saja sebotol itu sama dengan satu unit barang).

Lalu apa kaitannya antara marginal utility saya dengan Oporto, vendor tempat saya membeli makan siang tadi yang menjual sebotol air mineral sebesar 600mL lebih mahal (Aus $2.40) daripada news agency yang malah menjual air mineral 1000mL dengan merek yang sama tetapi lebih murah (Aus$2.00)?

Disini saya pikir pandainya Oporto. Oporto tahu bahwa air putih (atau air mineral) sebetulnya bisa didapat gratis. Lalu kenapa masih ada yang berniat beli? Tentulah yang membeli sebotol air mineral itu benar-benar orang yang membutuhkan air putih. Andaikata tadi saya membeli air mineral dan bukan Coca Cola, maka saya menempatkan air mineral sebagai barang yang memberikan marginal utility lebih tinggi ketimbang Coca Cola. Oporto mungkin berpikir kalau sekaleng Coca Cola saja bisa dijual Aus $2.00, tentunya harga sebotol air mineral bisa dijual lebih tinggi.

Dengan membeli air mineral saya memberikan sinyal kepada Oporto bahwa saya benar-benar butuh air putih dan rela mengeluarkan uang lebih besar untuk sebotol air mineral daripada Coca Cola. Dalam bahasa posting ini, bisa dikatakan saya relatif tidak begitu sensitif terhadap harga sebotol air mineral.

Lalu mengapa news agency tadi menawarkan harga yang lebih rendah (dengan kuantitas lebih banyak) daripada Oporto? Tentu saja karena news agency tahu bahwa tujuan utama konsumen yang datang ke toko mereka bukan untuk membeli air mineral. Konsumen news agency ini tidak lain orang yang mencari koran, post card, majalah ataupun pasang lotere (di Australia lotere dilegalkan dan biasanya dijual di news agency).

Sang pemilik news agency tahu bahwa sebotol air mineral bukan kebutuhan penting atau kebutuhan dasar konsumen mereka. Mereka paham bahwa konsumen yang membeli sebotol air mineral di toko mereka adalah konsumen yang sensitif terhadap harga. Lantas tidak ada alasan untuk menjual sebotol air mineral dengan harga yang sama dengan harga di Oporto.

Lalu apakah Oporto itu manipulatif? Memanfaatkan kebutuhan saya akan air mineral dengan menjual sebotol air putih yang mahal. Jawabannya tentu saja tidak. Oporto bisa menjual harga relatif lebih tinggi air mineral disebabkan karena kemalasan orang untuk mencari sebotol air mineral yang lebih murah di tempat lain (seperti di news agency tadi).

Produsen yang mampu menjual harga produk diatas ongkos produksinya (ongkos secara ekonomi) hanya produsen yang bisa memanfaatkan prinsip pertama tadi, kelangkaan barang. Akan tetapi pada kenyataannya tidak banyak produk atau barang-barang yang benar-benar langka. Produsen bisa memanfaatkan prinsip kelangkaan sebetulnya disebabkan karena perilaku konsumen itu sendiri. Letak news agency tadi sebetulnya dekat sekali dengan Oporto. Kalau saja konsumen yang membeli air mineral di Oporto mau melangkah sedikit saja, tentu dia bisa menemukan air mineral yang lebih murah dalam kuantitas lebih banyak lagi. Nah ini kritik buat mereka yang percaya kalau produsen itu manipulatif :D .

Ketika mengantri di boarding room stasiun, tiba-tiba saya melihat kedai kopi. Saya ingin sekali membeli secangkir cappuccino. Sembari antri dan melirik harga, wah lebih mahal. Cappuccino di kedai ini-namanya saya tidak kenal seharga Aus $3.40, sementara di Victoria Cofee-kedai kopi favorit saya, cappuccino yang sama seharga Aus $ 2.80. Mengapa bisa beda? Nah jawabannya sama.