Itu kira-kira ekspektasi dari ulasan tentang ekonomi disini (dikutip dari majalah Gatra). Saya kutip:
“Pengamat ekonomi dari Institute for Development and Finance, Avilliani, mengungkapkan bahwa naiknya jumlah orang kaya di Tanah Air ternyata tidak mempengaruhi kemampuan sektor riil dalam menyerap tenaga kerja. Hal ini disebabkan kekayaan yang beredar hanya bergulir di pasar uang dan pasar modal. Sebagai bukti, naiknya jumlah orang kaya ini tidak secara signifikan mendorong pertumbuhan ekonomi dan berkurangnya kemiskinan.
Melihat kondisi demikian, Aviliani menyimpulkan bahwa melonjaknya jumlah milyarder itu kurang bermanfaat terhadap negara, melainkan lebih pada individu saja. “Angka itu menunjukkan, yang kaya makin kaya, yang miskin makin miskin,” katanya kepada Gatra“
Bukan hal yang mengherankan sebetulnya kenapa jumlah orang kaya tidak mengurangi pengangguran atau orang miskin. Karena, jawaban sederhana, proses perumusan masalahnya saja sudah tidak tepat. Tentu saja pengeluaran saya untuk membeli sekian mobil mewah tidak akan terkait dengan pengurangan kemiskinan dan pengangguran (dan secara intuisi saja, tanpa perlu menguji signifikansi agka-angka statistik). Tetapi persoalan penting sebetulnya apakah jumlah orang kaya relevan untuk dikaitkan dengan “pengurangan kemiskinan” atau “pertumbuhan” yang mestinya dijawab. Jawaban saya, tentu tidak sama sekali. Menjadi berbeda bila kita berbicara soal ketimpangan, jumlah orang kaya tentu menjadi relevan disini.
Lantas mungkin kita berpikir bukankah ketimpangan bisa saja berpengaruh terhadap pertumbuhan dan kemiskinan, iya mungkin saja. Akan tetapi menarik garis langsung antara jumlah orang kaya dan pengurangan pengangguran dan pertumbuhan ekonomi…..mmmm…membuat saya mengerutkan dahi.




& Komentar
November 30, 2007 pukul 7:14 pm
Yang kaya itu juga kan belum tentu pengusaha yang punya ‘niat baik’ untuk membuka lapangan pekerjaan.
Desember 5, 2007 pukul 8:56 am
Orang Kaya……
Menurut saya, “Orang Kaya” yang menetap di Indonesia tidak terlalu mementingkan orang lain. Walaupun sebagian ada yang memperhatikannya, itu mungkin hanya 1 diantara 1000 arang kaya yang ada di Indonesia.
Desember 19, 2007 pukul 12:41 pm
Apalagi kalau kaya karena dapat warisan…
Maret 23, 2008 pukul 12:24 pm
salam kenal pak!
i am your student on macroeconomics class, actually. when i blogwalkig here and there, i found your blog. hoho.
nice writings, meskipun dengan pemikiran saya yang dangkal,
masih mencoba mengerti lebih jauh lagi dengan apa yang terjadi dunia.
yaaaah, orang kayak nggak akan berpengaruh sama berkurangnya orang miskin di dunia, selama yang kaya itu menikmati kekayaannya itu sendiri kan? hw.. spending on their private interests instead of making new working-field.
November 15, 2008 pukul 3:10 am
Kaya atau miskin itu berpijak pada kaukus relativitas yang mengakar, miskinkah kita jika memiliki penghasilan yang minim dan berebut status ‘miskin’ agar bisa mendapatkan jatah raskin dan BLT; namun memiliki kendaraan pribadi yang mondar-mandir SPBU. Silahkan mencari jawabannya.
November 17, 2008 pukul 9:56 am
mas yudo,
ini yg mata kuliah oleksii birulin yak?
hehehe
ga penting bgt ya komen gw,,,