Tempo hari saya pernah mengulas sebuah tulisan di Kompas. Kali ini saya tertarik pada ulasan lain di harian Kompas soal kondisi ekonomi international terkini ( belum ada linknya) . Komentar pendek soal tulisan itu: terlampau banyak jargon dan terkesan menjadi opini ketimbang ulasan berita yang menarik. Mungkin ekpektasi saya terlampu tinggi tapi mengingat harian sebesar Kompas, rasanya wajar bila saya berharap bahwa ulasan berita (ataupun kutipan atas kutipan berita) Kompas lebih baik kualitasnya. Saya kutip paragraf awal ulasan tersebut :
“Spekulan berduit banyak, yang mencari untung dari naik turunnya harga saham dan komoditas, telah menjadi musuh dunia. Jika mereka berada di bawah kekuasaan Orde Baru di Indonesia, mereka bisa dituduh melakukan subversi ekonomi. Mengapa? Merekalah yang membuat ekonomi dunia terancam resesi lewat spekulasi yang menyebabkan krisis kredit di sektor perumahan AS“
Saya bukanlah lulusan jurnalistik, namun membaca paragraf awal saja menurut saya sangat tidak pas mengaitkan konteks spekulan (entah berduit banyak atau tidak) dengan konteks kekuasaan orde baru apalagi subversi ekonomi. Paragraf pertama praktis tidak memberikan makna apa pun kecuali jargon. Kita mungkin tidak menyukai aksi spekulasi, tetapi mengidentikkan spekulan sebagai musuh yang seolah-olah melakukan aksi yang harus diperangi, rasanya menjadi lucu. Paragraf yang mestinya lebih pas untuk koran atau majalah kampus ketimbang harian sebesar Kompas.
Kekeliruan (yang cukup fatal) lain, saya kutip disini:
“…..Posisi short adalah sebutan bagi aksi spekulan yang mencari untung, walau juga bisa rugi, dari transaksi-transaksi spekulatif jangka pendek untuk keuntungan jangka pendek…..”
“….Para spekulan menggunakan dana-dana itu berspekulasi di pasar minyak. Mereka mengambil posisi short untuk spekulasi bahwa harga minyak akan naik. Tidak heran jika harga minyak akan mendekati level 100 dollar AS per barrel. Mereka memainkan isu geopolitik yang memanas untuk mendongkrak harga lebih tinggi lagi…”
Dua kutipan paragraf diatas menunjukkan bahwa penulis tidak begitu paham makna dari “short position” dalam istilah keuangan. Ini terlihat dengan membaca kutipan paragraf pertama yang tidak konsisten. bagaimana mungkin mereka (spekulan) melakukan posisi short yang bertujuan mencari untung tetapi (ditulis) “walau juga bisa rugi”.
Posisi short dalam istilah keuangan artinya posisi “menjual” aset dan posisi long itu posisi “membeli” aset. Istilah short dan long position tidak sama dengan short atau long terms dalam konteks memegang aset (maksudnya memegang aset dalam jangka pendek atau jangka panjang).
Tidak mengertinya sang penulis dengan apa yang diulas lebih jelas lagi pada kutipan paragaraf kedua. Kalimat “Mereka mengambil posisi short untuk spekulasi bahwa harga minyak akan naik” menjadi ambigu. Bila konteks spekulasi diartikan dengan ekspektasi, maka aksi spekulasi “standar” dalam situasi ini mestinya melakukan posisi long (long position yang artinya membeli aset) dan bukan posisi short. Artinya membeli aset ketika aset tersebut diperkirakan akan meningkat nilainya di masa yang akan datang.
Posisi short yang mungkin dimaksud penulis adalah durasi memegang aset yang bersifat jangka pendek, tapi sebagaimana mana yg dibahas diatas, posisi short adalah posisi menjual dan tidak ada kaitannya dengan soal lama memegang aset.
Membaca ulasan ini seluruhnya pada akhirnya seperti membaca ulasan strategi perang. Padahal situasinya jauh dari itu. Mungkin ada baiknya bila jurnalis Kompas melihat bagaimana harian the Guardian (yang beritanya dikutip dan diulas oleh Kompas) mengulas suatu berita.




1 Komentar
November 7, 2007 pukul 11:42 am
makanya do bacanya TEMPO dong.. hehehe
gimana boeng, lagi sibuk ujian akhir yah!?
goodluck brur.. jangan sering2 ke 413 itu ya.. hehe
btw, kapan pemilu, kira2 peluang Kevin Rudd gimana?
salam,
dn-
JAKARTA MAKIN MACET!!!!