Xenophon, The Melian Dialogue dan Komitmen (2)

Bagi yang tidak menggeluti studi hubungan internasional mungkin cerita the Peloponnesian War merupakan kisah yang belum pernah terdengar. Tetapi dari apa yang saya ketahui, the Peloponnesian War bertutur mengenai pertempuran klasik lampau yang terjadi antara Athena dengan liga Peloponnesian yang dipimpin oleh Sparta. Sementara The Melian Dialogue, yang ditulis oleh Thucydides-yang juga jendral Athena, merupakan kisah tentang negosiasi dan bargaining antara Athena dengan Melos- pulau kecil yang menjadi bagian dari koloni Lacedaemon dan bergabung dalam liga Peloponnesian dibawah Sparta.

Dalam dialog ini Athena memberikan pilihan kepada Melos antara tunduk dibawah kekuasaan Athena dan memberikan upeti kepada Athena atau menolak tunduk dan dengan begitu dihancurkan.

Thucydides berada pada sisi Athena. Mengamati apa yang ditulis menarik sekali, setidaknya menggambarkan apa yang ada dibenak para negosiator Athena sebelum bernegosiasi dengan Melos. Thucydides menulis:

The Melians are a colony of Lacedaemon that would not submit to the Athenians like the other islanders, and at first remained neutral and took no part in the struggle, but afterwards upon the Athenians using violence and plundering their territory, assumed an attitude of open hostility

Paragraf itu adalah penggalan yang ditulis sebelum dialog, yang artinya sebelum negosiasi antara Athena-Melos dimulai. Dari sini terlihat bahwa sejak awal sepertinya Thucydides sudah menaruh rasa curiga pada orang Melos. Sebenarnya persepsi awal semacam ini yang turut mempengaruhi kesuksesan sebuah negosiasi (bargaining). Karena pada akhirnya output yang diharapkan dari sebuah negosiasi adalah komitmen dari kedua belah pihak-apapun bentuknya.

Dalam negosiasi ini, Athena-serupa dengan Xenophon, menggunakan cara “ancaman” (threat) untuk memunculkan komitmen. Dengan menempatkan pasukannya pada situasi antara jurang dan pasukan persia, Xenophon memberikan “ancaman” pada pasukannya agar berkomitmen melawan persia. Sementara Athena, dengan memperlihatkan kekuatan militernya, ia berharap Melos berkomitmen untuk tunduk dibawahnya.

Schelling berpendapat bahwa komitmen terkait (ataupun terbentuk) dari janji (promise) dan ancaman (threat). Dengan mengancam Melos, Athena berharap bahwa Melos akan berkomitmen untuk tunduk dibawah Athena. Namun ancaman (threat) akan menjadi efektif bila ia memiliki daya persuasif. Sementara daya persuasif itu sendiri ditentukan oleh dua hal penting: potensi dan kredibilitas.

Yang dimaksud potensi tidak lain adalah kemampuan sang pengancam untuk mewujudkan ancamannya. Sementara kredibilitas adalah penilaian dari orang yang diancam atas keseriusan ancaman sang pengancam (agak ribet ya :D ). Tanpa dua hal ini ancaman menjadi tidak bergigi dan tidak mungkin mewujudkan komitmen.

Apa yang dilakukan oleh Athena persis menggambarkan ini, potensi dan kredibilitas. Thucydides menulis bahwa Athena mendatangkan bala tentara yang cukup besar: 30 kapal yang dimiliki oleh Athena sendiri, 1600 infantri berat, 300 pemanah, dan sekitar 1500 pasukan infantri yang dimiliki oleh negara-negara kecil dibawah persekutuan Athena. Disini Athena bermaksud mengirim pesan ke Melos bahwa ancamannya serius. Dilihat dari dialog pada the Melian dialogue, Melos menangkap baik pesan Athena ini.

Namun dalam dialog ini ditunjukkan bahwa pada saat yang bersamaan Melos juga berusaha mempengaruhi persepsi negosiator Athena, mencoba membongkar keseriusan Athena untuk mewujudkan ancamannya dan tidak jarang mengeluarkan nada yang seolah-olah menakut-nakuti Athena untuk menunjukkan bahwa keputusannya menjatuhkan Melos adalah keputusan yang tidak tepat.

Di sisi lain, tampaknya tim negosiator Athena bukan negosiator yang memiliki kesabaran (patience)-mungkin juga karena merasa memiliki kekuatan militer yang tangguh. Padahal dalam bargaining game semacam ini kesabaran adalah hal penting untuk mencegah terjadinya break-down dalam negosiasi (yang dikemudian waktu ini terjadi). Tim negosiator Athena mengatakan:

For ourselves, we shall not trouble you with specious pretences-….-and make a long speech which would not be believed; and in return we hope that you, instead of thinking to influence us by saying that you did not join the Lacedaemonians, although their colonists, or that you have done us no wrong, will aim at what is feasible, holding in view the real sentiments of us both; since you know as well as we do that right, as the world goes, is only in question between equals in power, while the strong do what they can and the weak suffer what they must“.

Dari posting Philips, penggalan yang saya highlight hitam adalah penggalan yang dijadikan dasar bagi paradigma realis dalam teori hubungan internasional. Namun Melos mencoba mengoyahkan pikiran negosiator Athena dengan mengatakan:

“…you are as much interested in this as any, as your fall would be a signal for the heaviest vengeance and an example for the world to meditate upon

Melos berusaha membuat Athena berpikir ulang mengenai rencana untuk menundukannya. Namun negosiator Athena tampaknya paham bahwa menjadi keras kepala kadang dibutuhkan dalam negosiasi (bargaining).

Hal menarik lain yang diperlihatkan dari dialog ini tidak lain bagaimana Athena terkesan memimpin dalam proses negosiasi dan Melos lebih merespon argumentasi Athena. Penggalan-penggalan diatas menunjukkan bahwa Melos tidak berada dalam situasi yang memimpin negosiasi ini. Tidak mengherankan bila kemudian argumentasi Melos lebih bersifat konstruktif. Salah satu penggalan penting yang dinilai sikap konstruktif Melos dan kemudian menjadi rujukan pandangan idealis dalam karya Thucydides ini adalah kata-kata Melos:

So that you would not consent to our being neutral, friends instead of enemies, but allies of neither side

(saya highlight karena penggalan ini memberikan konsep tentang pemikiran idealis dalam teori HI)

Yang kemudian dibalas oleh Athena :

No; for your hostility cannot so much hurt us as your friendship will be an argument to our subjects of our weakness, and your enmity of our power

Dari penggalan dialog ini terlihat Athena menggunakan apa yang disebut dalam teori bargaining “the power of intransigence” atau dalam bahasa kasar adalah kekuatan dari sikap keras kepala. Dalam banyak hal sikap keras kepala membantu meningkatkan kekuatan bargaining. Namun penggalan dialog ini menyimpan hal lain. Komitmen yang ditawarkan oleh Melos melalui janji untuk bersikap netral dinilai tidak kredibel dan tidak memiliki potensi di mata Athena. Jawaban Athena di atas menunjukkan itu.

Tetapi dialog ini mungkin bisa juga memiliki interpretasi lain. Mungkin saja Athena percaya atas niat baik Melos yang konstruktif dan mungkin saja Melos memang bersikap konstruktif. Akan tetapi Athena terlanjur datang dengan bala tentara besar yang siap perang. Kemudian, duduk di meja perundingan dan bernegosiasi dengan Melos, sementara bila menghasilkan keputusan yang menempatkan Melos sebagai kawan yang netral dan setara, iniĀ  dapat memberikan sinyal bahwa Athena lemah tidak saja di mata Melos tetapi juga Sparta. Athena tidak ingin kehilangan muka dan kredibilitas pada situasi perang seperti ini. Artinya negosiasi Athena-Melos memberikan sinyal tidak saja kepada Melos tetapi juga kepada Sparta lawan besar Athena.

Dalam banyak penggalan, seperti yang Philips katakan dalam blognya, Melos memang bersikap lebih konstruktif dan menawarkan konsep “security with”. Namun pertanyaannya kemudian apakah Melos sesungguhnya menawarkan konsep ini dari pemikiran yang matang dan dari sejak awal, ataukah bahwa konsep ini sebetulnya lahir serta-merta sebagai respon atas reaksi Athena di dalam proses negosiasi ini.

Saya cenderung membuka peluang kemungkinan yang terakhir, dimana mungkin saja bahwa Melos yang dinilai sebagai sosok idealis sebetulnya juga sosok yang realis. Karena, bila memang konsepsi netralitas sudah menjadi asas bagi Melos, mengapa, sebelum negosiasi ini, Melos bergabung dengan Sparta.

Dalam The Melian Dialogue kita bisa melihat dua cara berbeda untuk mewujudkan komitmen. Athena datang dengan ancaman dan ancaman ini mengandung nilai potensi dan kredibilitas. Dengan menunjukkan kekuatan militer dan menghancurkan Melos, Athena menunjukkan potensi sekaligus kredibilitas dari ancamannya. Di lain pihak, Melos datang dengan janji. Akan tetapi janji Melos ini tanpa nilai potensi dan, terpenting, kredibilitas dari janji Melos ini dipertanyakan-mengapa menawarkan sikap netral di meja perundingan bila sebelumnya bergabung dengan Sparta.

Negosiasi ini akhirnya gagal karena setidaknya beberapa hal. Pertama power of intransigence (menjadi keras kepala) tidak selamanya memberikan nilai positif bagi keberhasilan proses negosiasi, meski mungkin meningkatkan posisi daya tawar. Ditambah dengan sikap tidak sabar dari Athena dalam proses negosiasi. Yang tidak kurang adalah janji (promise) yang coba ditawarkan oleh Melos untuk membangun komitmen tidak kredibel dan tanpa potensi. Akan tetapi dilihat dalam konteks strategi yang lebih luas, pilihan Athena untuk menghancurkan Melos mungkin juga dapat diinterpretasikan bahwa Athena memberikan sinyal kepada Sparta dan koloni persekutuannya bahwa Athena cukup serius dengan ancamannya. Kredibilitas dari sebuah ancaman (ataupun janji) selalu penting dalam meja perundingan.

Kisah the Melian Dialogue menurut saya sangat menarik, karena itu menggambarkan jelas sekali bagaimana negosiasi berlangsung. Sepertinya saya harus menunjukkan kisah The Melian Dialogue ini kepada prof saya :D .


Tinggalkan sebuah Komentar

Filed under Bargaining, Game-theory, Komitmen, Melian Dialogue, Peloponnesian War, Realisme, Teori Hubungan Internasional, Xenophon

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s