Agustus 8, 2007...3:13 am

Xenophon, The Melian Dialogue dan Komitmen (1)

Lompat ke Komentar

Dalam minggu-minggu ini saya mesti mencari paper ilmiah tentang non-cooperative game yang dinilai memiliki kontribusi signifikan dalam ranah game-theory. Ini tugas dari mata kuliah Micro Analysis 2 yang hampir seluruhnya berisi non-cooperative games, bargaining dan evolutionary games. Artikel yang dipilih harus presentasikan didepan kelas dan, ini bagian tersulit, menunjukkan kontribusi signifikan serta aplikasi dari konsep (teori) dalam artikel tersebut.

Ketika mencari topik, saya menemukan beberapa buku Thomas C Schelling-saya sempat membahas sekilas Schelling disini. Beberapa diantaranya, Micro motives and Macro behavior (1978), The Strategy of Conflict (1966) dan Strategies of Comittment and Other Essays (2006). Dua yang pertama saya sempat membacanya, meski belum selesai. Buku terakhir ini buku Schelling yang relatif baru, dipublikasikan tahun 2006. Sebetulnya ada beberapa karya Schelling lain tapi saya ingin membaca lagi buku-buku ini dulu.

Dalam buku Strategies of Comittment, Schelling mengawali ceritanya dengan mengutip kisah Xenophon, seorang Yunani, yang bergabung dengan ekspedisi pasukan Cyrus the Younger dalam menghadapi pasukan persia. Berhubung saya tertarik dengan kisah Xenophon ini, saya mencari penggalan kisah ini dan menemukannya dalam Anabasis cerita tentang ekspedisi ke persia yang ditulis sendiri oleh Xenophon. Saya mendapati terjemahan bahasa inggris Anabasis yang dikutip oleh Schelling berbeda dengan terjemahan inggris yang saya dapatkan dari intenet (Project Gutenberg). Maklum namanya juga gratis :D . Meski esensinya sama.

Dalam Anabasis versi terjemahan H. G. Dakyns, Xenophon bertutur (saya highlight beberapa poin penting):

For my part, I would rather at any time attack with half my men than retreat with twice the number. As to these fellows, if we attack them, I am sure you do not really expect them to await us; though, if we retreat, we know for certain they will be emboldened to pursue us. Nay, if the result of crossing is to place a difficult gully behind us when we are on the point of engaging, surely that is an advantage worth seizing. At least, if it were left to me, I would choose that everything should appear smooth and passable to the enemy, which may invite retreat; but for ourselves we may bless the ground which teaches us that except in victory

Penggalan ini respon dari Xenophon terhadap seorang jenderal yang mengabarkan bahwa pasukan Xenophon berada pada situasi yang amat sulit antara menghadapi jurang yang hampir tidak bisa dilewati atau melawan pasukan persia. Dengan kata lain hampir tidak mungkin pasukan Xenophon untuk lolos dari kedua hambatan ini bersamaan.

Situasi sulit ini menyempitkan pilihan bagi pasukan Xenophon (antara masuk jurang yang dalam atau melawan pasukan persia). Sementara pasukan persia yang menghadang pasukan Xenophon memiliki ruang bergerak yang bebas termasuk pilihan untuk mundur. Bagi Xenophon situasi sulit ini justru menguntungkan pasukannya, karena ketimbang mati sia-sia, pasukannya mau tidak mau harus melawan pasukan persia. Sementara itu pasukan persia yang memiliki lebih banyak opsi dan strategi akan cenderung lebih mudah memilih mundur ketimbang melawan habis-habisan pasukan Xenophon. Argumentasi Xenophon benar dan Anabasis mengisahkan bahwa pada akhirnya Xenophon berhasil membawa pasukannya kembali ke Yunani.

Esensi cerita yang dikutip oleh Schelling ini adalah bahwa Xenophon bersama pasukannya berkomitmen bersama-sama untuk menghadapi pasukan persia. Komitmen berarti mengikat dan mewajibkan orang yang berkomitmen untuk melakukan suatu aksi tertentu. Dan komitmen ternyata pula mengurangi pilihan-pilihan yang ada dan menghilangkan kemungkinan individu melakukan sesuatu diluar yang sudah disepakati. Dalam hal ini, komitmen mempengaruhi pilihan-pilihan individu.

Bersamaan dengan membaca kisah Xenophon ini saya tiba-tiba teringat bahwa Philips, kawan di CSIS, sempat mengutip kisah Peloponnesian War di blognya disini-karena Xenophon lahir persis pada zaman Peloponnesian War. Salah satu kisah dalam the Peloponnesian War yang ditulis oleh Thucydides, seorang filsuf Yunani, yaitu The Melian Dialogue.

Dari posting itu saya mendapatkan kesan bahwa kisah ini merupakan kisah penting yang menjadi dasar bagi paradigma realisme dalam teori hubungan internasional. Hal menarik yang dikemukakan oleh Philips, bahwa kisah ini tidak saja bertutur mengenai paradigma realisme namun juga pemikiran idealis sekaligus (mazhab pemikiran dalam teori hubungan internasional).

Berhubung saya bukan ahli soal hubungan internasional saya tidak memiliki kapasitas untuk mendefinisikan pemikiran-pemikiran yang ada dalam teori hubungan internasional. Akan tetapi The Melian Dialogue memberikan kisah menarik lain bagi saya, yaitu soal komitmen, threat dan bargaining. Kisah yang sebetulnya serupa dengan kisah Xenophon namun tidak sepenuhnya sama.

Tinggalkan Balasan