Juli 23, 2007...5:33 am

Antara kelapa sawit dan kamera digital : Mengapa perdagangan yang lebih bebas itu menguntungkan (1)*

Lompat ke Komentar

Sepupu saya yang bekerja di salah satu jasa telematika terkenal memesan kamera digital merk terkenal ke saya (ia memesan antara Canon atau Nikon). Ia tinggal di Indonesia dan ia mungkin berpikir kamera digital di Australia akan lebih murah. Tetapi sayangnya tipe yang ia pesan jauh lebih mahal di Australia daripada di Indonesia. Akhirnya ia batal pesan.

Tapi apa yang ada dibenak sepupu saya rata-rata hampir ada dibenak kebanyakan orang Indonesia-bahkan dulu saya yang termasuk berpikir demikian. Berpikir bahwa barang elektronik lebih murah di negara maju ketimbang negara berkembang. Mungkin mereka berpikir karena negara maju, sebut seperti Jepang atau AS adalah negara asal produsen barang-barang elektronik. Sehingga harga barang elektronik yang dijual tidak termasuk ongkos kirim. Betul juga idenya.

Tetapi mungkin apa yang tidak diketahui sepupu saya (karena ia memang bukan ekonom :D ), sistem transaksi perdagangan dunia telah mengubah lokasi produksi. Sebagian besar produsen di negara maju merelokasi produksinya ke negara berkembang, sebut saja China ataupun India, meski tidak semuanya . Maka wajar teman kuliah saya yang berasal dari China mengatakan bahwa harga laptop Dell di China hampir setengahnya dari harga di Dell di Australia, tentu dengan tipe yang sama dan setelah harga dikonversikan ke dollar Australia.

Isu ini bukan hal baru sebetulnya. Kalau kita masih ingat Jepang pun sudah merelokasi sejumlah pabrik otomotifnya ke Indonesia sejak tahun 1980an-kalau saya tidak salah. Tapi postingan saya kali ini bukan tentang relokasi industri semacam. Tetapi lebih dasar lagi, soal perdagangan internasional.

Kita tidak mungkin menihilkan perdagangan internasional. Mengapa? Katakanlah ada dua negara Indonesia dan Jepang. Pekerja Indonesia mampu memproduksi satu ton Cude Palm Oil (CPO) dari kelapa sawit selama setengah jam (30 menit) dan sebuah kamera digital selama satu jam (60 menit). Sementara pekerja Jepang yang kabarnya pandai-pandai itu mampu memproduksi satu ton CPO dari kelapa sawit selama dua puluh menit dan hanya sepuluh menit untuk membuat 1 kamera digital.

Kalau Indonesia dan Jepang tidak saling berdagang, maka Indonesia menghabiskan waktu 90 menit untuk memproduksi sebuah kamera dan satu ton CPO. Sementara Jepang menghabiskan waktu sekitar 30 menit untuk memproduksi satu ton kelapa sawit dan sebuah kamera.

Lalu datanglah seorang ekonom. Ia mengatakan bahwa jumlah jam sehari hanya 24 jam (ini sudah pasti, semua orang juga tahu), artinya waktu juga sumber daya yang terbatas. Bukankah lebih baik kalau kita bisa menggunakan waktu kita untuk memproduksi barang yang lain selain kamera digital dan CPO. Kemudian sang ekonom mengeluarkan ide untuk spesialisasi dan menganjurkan untuk membuka perdagangan antara Indonesia-Jepang.

Mungkin common sense anda mengatakan, mana mungkin Jepang mau berdagang dengan Indonesia. Bukankah Jepang dalam banyak hal lebih baik dan efisien, lihat saja kenyataan bahwa mereka hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk memproduksi dua barang sementara Indonesia butuh waktu selama 90 menit. Intinya Jepang unggul dalam segala hal

Tentu saja sang ekonom akan langsung menjawab “ini alasan kenapa common sense adalah awal dari kekeliruan (bahasa inggrisnya: “common sense is a mother of failure” ).

Andaikata tidak ada hambatan perdagangan dan kedua negara berspesialisasi pada bidang yang diangap unggul. Sebut saja Jepang berspesialisasi mempoduksi kamera digital dan Indonesia memproduksi CPO. Dengan begitu, Indonesia bisa memproduksi 2 ton CPO (selama 60 menit) dan Jepang mampu memproduksi dua kamera digital (selama 20 menit). Lantas Jepang mejual 1 kamera canon-nya dengan 1 ton CPO dari Indonesia.

Sekarang Jepang memiliki 1 ton CPO dan 1 kamera digital, Indonesia pun demikian. Tetapi lihat berapa jumlah waktu yang bisa dihemat, Indonesia menghemat 30 menit sementara Jepang juga menghemat waktu 10 menit. Masing-masing diuntungkan dengan perdagangan karena masing-masing memperoleh tambahan waktu sepertiganya dari total waktu memproduksi dua barang pada kondisi sebelumnya. Tambahan waktu yang bisa digunakan untuk aktivitas lainnya.

Bukankah ini menunjukkan bahwa perdagangan lebih menguntungkan. Prinsip ini dalam bahasa ekonom dikenal dengan comparative advantage. Ide yang dicetuskan oleh kakek dari teori perdagangan intenasional (he..he..bukan bapak). Prinsip ini secara garis besar menekankan bahwa akan lebih menguntungkan bagi setiap negara berspesialisasi pada produk yang dianggapnya memiliki keunggulan secara komparatif dan berdagang satu sama lain.

Poin penting disini, perdagangan antar bangsa membawa manfaat bagi semua pihak. Menghilangkan hambatan perdagangan tentu sama saja dengan meningkatkan manfaat yang dapat kita peroleh.

*Ide ini diperoleh ketika membaca buku Tim Harford, The Undercover Economist.

& Komentar

  • Mas teguh, loe berargumentasi tentang comparative advantage, spesialisasi, etc.

    Tapi apakah kemudian ini menjawab kenapa harga kamera di australia lebih mahal daripada di Indonesia?

    Atau itu cuma pertanyaaan pembuka yang tidak butuh jawaban?? :D

  • He…he..Betul juga, saya kelupaan menulis paragraf tambahan. Karena ide awalnya saya hanya ingin menulis soal perdagangan internasional tetapi tiba-tiba ingat pesanan sepupu saya soal kamera digital jadi masuk postingan deh :D . Tetapi isu postingan saya ini memang mencoba menunjukkan mengapa perdagangan menjadi hal yang tak terelakkan-kecuali bila pilihannya menjadi benar-benar isolasionis.

    Menjawab pertanyaannya (termasuk juga menjawab apa yang ada dibenak sepupu saya). Andai tidak ada diskriminasi harga yang dilakukan oleh Canon dan Nikon dan perbedaan biaya transport antara mengekspor ke Indonesia dan Australia kecil, maka mungkin sekali comparative advantage menjelaskan perbedaan harga tersebut, yaitu upah penjaga toko kamera di Indonesia lebih murah ketimbang upah penjaga toko kamera di Australia-karenanya harga kamera di Australia lebih mahal ketimbang di Indonesia.

    Tetapi bila Canon menerapkan strategi diskriminasi harga, isunya jadi berbeda (ini sama dengan postingan saya disini http://twicaksono.wordpress.com/2007/07/17/apa-yang-dilakukan-movie-world-tapi-tidak-dunia-fantasi-bag-2/ )

    Yang ingin saya garisbawahi, ”murah” karena comparative advantage dengan diskriminasi harga itu berbeda. Sayangnya seringkali kebanyakan orang mencampuradukkannya. Perbedaan harga pada diskriminasi harga terjadi dengan memanfaatkan bentuk permintaan konsumen yang berbeda-beda (misalnya orang Australia memiliki willingness to pay yang tinggi ketimbang orang Indonesia misalnya). Sementara biaya produksinya tetap sama. Comparative advantage menyebabkan ongkos produksi yang berbeda-beda, sehingga akibatnya harga barang pun berbeda. Lalu bagaimana kita melihatnya, ini yang harus digali lebih dalam, terutama soal struktur biaya produksinya.

    Thanks buat mengingatkan :) .

  • Do,
    kayaknya mekanismenya agak lebih rumiit dari sekedar keunggulan komparatif dari gaji penjaga toko di Indo yang lebih murah dech….

    Saudara kamu bandinginnya ama toko yang mana… wong sama sama di Indo aja cuma beda toko bisa beda harga…. padahal gaji penjaga tokonya hampir mirip2,…

    Kasus Canon ama Nikon mereka lebih ke diskriminasi harga dech….

    Contoh lain
    Leica L1 di ausie cuma AU$1499 (Ted’s)
    di Indo, di toko online paling murah aja harganya lebih dari 22 jtaan….

    kenapa begini…????

    Mekanisme lainnya bermain…. hehehe

    so, mungkin keunggulan komparatif salah satunya, tapi mekanisme marketing lain-lainnya, yang menurut saya sekarang ini agak dominan bermain, terutama berkaitan dengan keinginan orang membeli (willingness to pay) dan kemampuan orang untuk membeli (purchasing power), …

    Saya pernah baca sebuah riset, cuma lupa, jadi gw gak quote sumbernya di sini, hehe… bahwa pengaruh dari pencabutan segala macam bentuk proteksi pemerintah hanya tidak lebih dari 16% dari total harga. sisanya,……. !!!!

    Salam


Tinggalkan Balasan