Kini, saatnya mengeluarkan pisau ekonom untuk membedah tabir misteri
. Pertama kita lihat dari prinsip kelangkaan (scarcity). Dari sudut kelangkaan, tentu saja air mineral tidak langka dalam artian bahwa saya sebenarnya bisa mendapatkan alternatif yang sama baiknya yaitu tap water yang justru gratis.
Kita masuk ke prinsip kedua, prinsip marginal utility (arti kasar dalam bahasa Indonesia: tambahan kepuasan karena adanya tambahan satu unit konsumsi barang). Karena pas makan siang tadi saya memesan Coca Cola dan bukan air mineral, maka praktis marginal utillty saya dari air mineral itu sebesar nol. Berhubung saya haus karena coke dan saya pikir air putih akan menghilangkan rasa haus saya, maka sekali saya mengkonsumsi air mineral nilai marginal utility saya akan positif. Semakin saya haus, semakin saya membutuhkan air mineral, semakin sulit saya menemukan alternatif lain, maka semakin besar nilai marginal utility saya ketika saya mengkonsumsi sebotol air mineral (anggap saja sebotol itu sama dengan satu unit barang).
Lalu apa kaitannya antara marginal utility saya dengan Oporto, vendor tempat saya membeli makan siang tadi yang menjual sebotol air mineral sebesar 600mL lebih mahal (Aus $2.40) daripada news agency yang malah menjual air mineral 1000mL dengan merek yang sama tetapi lebih murah (Aus$2.00)?
Disini saya pikir pandainya Oporto. Oporto tahu bahwa air putih (atau air mineral) sebetulnya bisa didapat gratis. Lalu kenapa masih ada yang berniat beli? Tentulah yang membeli sebotol air mineral itu benar-benar orang yang membutuhkan air putih. Andaikata tadi saya membeli air mineral dan bukan Coca Cola, maka saya menempatkan air mineral sebagai barang yang memberikan marginal utility lebih tinggi ketimbang Coca Cola. Oporto mungkin berpikir kalau sekaleng Coca Cola saja bisa dijual Aus $2.00, tentunya harga sebotol air mineral bisa dijual lebih tinggi.
Dengan membeli air mineral saya memberikan sinyal kepada Oporto bahwa saya benar-benar butuh air putih dan rela mengeluarkan uang lebih besar untuk sebotol air mineral daripada Coca Cola. Dalam bahasa posting ini, bisa dikatakan saya relatif tidak begitu sensitif terhadap harga sebotol air mineral.
Lalu mengapa news agency tadi menawarkan harga yang lebih rendah (dengan kuantitas lebih banyak) daripada Oporto? Tentu saja karena news agency tahu bahwa tujuan utama konsumen yang datang ke toko mereka bukan untuk membeli air mineral. Konsumen news agency ini tidak lain orang yang mencari koran, post card, majalah ataupun pasang lotere (di Australia lotere dilegalkan dan biasanya dijual di news agency).
Sang pemilik news agency tahu bahwa sebotol air mineral bukan kebutuhan penting atau kebutuhan dasar konsumen mereka. Mereka paham bahwa konsumen yang membeli sebotol air mineral di toko mereka adalah konsumen yang sensitif terhadap harga. Lantas tidak ada alasan untuk menjual sebotol air mineral dengan harga yang sama dengan harga di Oporto.
Lalu apakah Oporto itu manipulatif? Memanfaatkan kebutuhan saya akan air mineral dengan menjual sebotol air putih yang mahal. Jawabannya tentu saja tidak. Oporto bisa menjual harga relatif lebih tinggi air mineral disebabkan karena kemalasan orang untuk mencari sebotol air mineral yang lebih murah di tempat lain (seperti di news agency tadi).
Produsen yang mampu menjual harga produk diatas ongkos produksinya (ongkos secara ekonomi) hanya produsen yang bisa memanfaatkan prinsip pertama tadi, kelangkaan barang. Akan tetapi pada kenyataannya tidak banyak produk atau barang-barang yang benar-benar langka. Produsen bisa memanfaatkan prinsip kelangkaan sebetulnya disebabkan karena perilaku konsumen itu sendiri. Letak news agency tadi sebetulnya dekat sekali dengan Oporto. Kalau saja konsumen yang membeli air mineral di Oporto mau melangkah sedikit saja, tentu dia bisa menemukan air mineral yang lebih murah dalam kuantitas lebih banyak lagi. Nah ini kritik buat mereka yang percaya kalau produsen itu manipulatif
.
Ketika mengantri di boarding room stasiun, tiba-tiba saya melihat kedai kopi. Saya ingin sekali membeli secangkir cappuccino. Sembari antri dan melirik harga, wah lebih mahal. Cappuccino di kedai ini-namanya saya tidak kenal seharga Aus $3.40, sementara di Victoria Cofee-kedai kopi favorit saya, cappuccino yang sama seharga Aus $ 2.80. Mengapa bisa beda? Nah jawabannya sama.



