Juni 23, 2007...1:34 pm

Strategi perang & teori permainan

Lompat ke Komentar

Hari rabu lalu, saya ikut ujian mata kuliah Strategic Decision Making (Mata kuliah Game Theory atau teori permainan versi program ilmu ekonomi pada universitas-universitas di Australia). Saya diberikan empat pertanyaan yang harus diselesaikan dalam waktu 2 jam-waktu yang menurut saya kurang cukup mengingat keterbatasan kemampuan imajinasi saya. Betul sekali, soal-soal teori permainan seringkali menuntut kemampuan imajinasi dan analitis ketimbang kemampuan teknik berhitung.

Dari empat soal itu, soal terakhir yang menurut saya gampang-gampang susah. Soal itu tentang strategi perang. Secara garis besar soal itu seperti ini: ada dua pasukan yang saling bertikai. Pasukan A berada dalam posisi menyerang sementara pasukan B berada dalam posisi bertahan. Dari perlengkapan militer, pasukan A memiliki satu pesawat tempur dan pasukan B hanya memiliki satu senjata anti-aircraft. Namun ada tiga lokasi dengan nilai strategis berbeda yang mesti diserang oleh sebuah pesawat pasukan A. Lokasi yang sama pula yang harus dipertahankan oleh pasukan B dengan sebuah senjata anti-aircraft yang dimilikinya. Bila misi utama pasukan A adalah memberikan serangan yang memaksimalkan kerusakan target, misi utama pasukan B meminimalkan kerusakan yang mungkin timbul. Dan misi utama saya, memperkirakan strategi (lokasi) yang dipilih pasukan A untuk diserang dan pasukan B untuk dipertahankan.

Meski soalnya lumayan sulit untuk saya, tema-tema seperti ini yang membuat saya tertarik dengan mata kuliah ini. Saya pernah membaca bahwa teori permainan seringkali diaplikasikan dalam mengkaji soal-soal konflik dan bahkan strategi pertahanan. Thomas C Schelling dan Robert J Aumann, dua peraih hadiah nobel ekonomi untuk tahun 2005, merupakan tokoh utama yang terlibat dalam riset teori maupun aplikasi teori permainan terhadap persoalan konflik, perang dan negosiasi.

Membaca autobiografi Thomas C Schelling juga cukup menarik. Ia terlibat dalam proses awal pembentukan strategi pertahanan NATO. Keterlibatannya itu pula yang membawanya berhubungan dekat dengan sejumlah tokoh-tokoh militer penting baik di AS maupun di Eropa. Schelling bercerita bagaimana kemudian tokoh-tokoh militer ini tertarik dengan ide teori permainan dalam strategi militer dan pertahanan.

Salah satu ide penting Schelling ialah mengenai strategi pengendalian senjata (arms control), terutama senjata nuklir. Menurutnya, pengendalian senjata semestinya ditujukan untuk menghindarkan masing-masing pihak yang terlibat konflik dari kemampuan melakukan pre-emptive strike atau first strike. Tujuannya bukan untuk menyelamatkan penduduk sipil di masing-masing negara melainkan untuk menghindarkan negara yang terserang dari melakukan serangan balasan. Ide ini terbentuk pada masa perang dingin dimana banyak pihak mengkhawatirkan sekali terjadinya perang nuklir antara AS dan Uni Soviet pada waktu itu.

Bagi saya autobiografi ini juga bercerita hal lain, yaitu soal dekatnya hubungan antara akademisi dengan kalangan militer dalam menyusun suatu strategi pertahanan ataupun perperangan.Di AS, ini sebetulnya bukan hal yang baru. Dalam sebuah biografi Milton Friedman, seorang ekonom peraih Nobel ekonomi dari Universitas Chicago, ia juga pernah diminta untuk menyusun strategi persenjataan dalam perang dunia kedua. Kalau saya tidak salah, waktu itu ia diminta untuk menilai efektivitas penggunaan sejumlah alat-alat perang.

Dalam sebuah program dari SBS-salah satu televisi swasta di Australia selama beberapa episode memutar kisah keterlibatan akademisi dengan para ahli strategi militer dalam perang dunia kedua. Di salah satu episodenya, diperlihatkan bagaimana para akademisi ini memperhitungkan efektivitas penyerangan dengan begitu cermat dan detil. Sampai-sampai jumlah dan jenis senjata yang harus dipakai, kecepatan angin dalam penyerangan, ketinggian pesawat yang optimal dan seberapa besar cakupan penyerangan lengkap dengan besaran-besaran probabilitas yang muncul.

Mungkin karena kerjasama yang baik antara kalangan akademisi dan pihak militer, sekutu bisa memenangkan perang dunia kedua. Tidak mengherankan pula bila AS dan sejumlah negara maju selalu serius melibatkan kalangan akademisi non militer dalam menyusun strategi pertahanan mereka. Saya kurang paham bagaimana dengan penyusunan strategi pertahanan dan militer di Indonesia, namun semoga saja kita bergerak ke arah sana.

& Komentar


Tinggalkan Balasan